Kajian Psikologi Dalam Agama Hindu

Psikologi agama terdiri dari dua kata psikologi dan agama. Apabila ditinjau dari pengertiannya kedua kata tersebut memberikan pengertian yang berbeda. Psikologi berasal dari  kata “psyche” yang artinya “jiwa” dan kata “logos” yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Sehingga psikologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang kejiwaan atau ilmu jiwa. Psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaaan yang berada di belakangnya. Sekalipun jiwa itu sendiri tidak tampak, tetapi dapat dilihat dari sikap dan tingkah laku sebagai gejala-gejala kehidupan kejiwaan. Makna kata Agama menimbulkan banyak “kontroversi” yang sering lebih besar daripada arti penting permasalahannya.  Kita hanya terkait dengan cara dimana kaa tersebut digunakan, tidak ada permasalahan sama sekali mengenai fakta atau nilai yang terkait dengan agama. Dalamhal ini agama sebgai suatu kenyakinan yang sulit diukur secara tepat dsn rinci sehingga menyulitkan para ahli untuk mendefinisakan tentang agama. Ketika J.H Leuba menulis buku tentang  A Psychological Studi Of Religion yang berisi empat puluh definisa agama yang diberikan beberapa penulis. Tetapi  tidak  brarti bahwa agama itu kabur. Adanya keragaman definisi itu bersumber ketidaksamaan penulis mengenai bagaimana mereka ingin menggunakan kata tersebut dan juga ketidaksamaan pendapat mengenai  bagaimana mereka mengungkapkannya dalam uatu definisi yang bermakna. Sedangkan menurut Oka Netra, agama sebagai pengetahuan kerohanian yang menyangkut soal-soal rohani yang bersifat ghaib dan methafiska secra etimologinya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata “a” dan “gam” “A” berarti tidak dan “Gam” beratti pergi atau bergerak. Jadi kata agama berarti sesuatu yag tidak pergi atau bergerak dan besfat langgeng. Berangkay dari kenyakinan itulah, maka agama adalah merupakan kebenaran abadi yang mencakup seluruh kehidupan manusia yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Rsi dengan tujuan untuk menuntun manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup yang berupa kebahagiaan yang maha tinggi dan kesucian lahir dan bathin.

Kajian Dalam Psikologi Agama

Menurut Robert H. Thouless, psikologi agama memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiaanya terpusat pada pemahaman terhadap prilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi. Lebih lanjut, Prof.Dr.Zaiah  Darajat  menyatakan bahwa lapangan penelitian pisikologi agama mencangkup proses beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil keyakinan,Oleh karena itu lapangan kajian psikologi meliputi kajian mengenai :

  1. Mempelajari tentang berbagai macam perkembangan kejiwaan keagamaan pada setia manusia serta sikap keberagaman mereka.
  2. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap tuhannya misalnya rasa tentram dan kelegaan batin.
  3. Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati pada tiap-tiap orang ; atau dalam Agama Hindu kita kenal dengan Punarbhawa
  4. Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang tehadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut member pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan. Dengan percaya bahwa segala perbuatan yang kita lakukan (karma) maka kita akan mendapatkan  pahala dari perbuatan tersebut. Dengan demikian kajian dalam psikoogi agama  menurut Zakiah Drajat mencakup tentang kesadaran agama dan pengamalan agama. Yang dimaksud kesadaran agama adalah bagian segi agama yang hadir(terasa) dalam pikiran yang merupakan aspek mental dan aktivitas agama, sedangkan pengamalan agama adalah unsure perasaan dalam kesadaran beragama. Yaitu perasaan yang membawa kepada kenyakinan yan dihasilkan oleh tindakan.

Psikologi Dalam Pendidikan Agama Hindu.

Dalam kurikulum pendidikan Agama Hindu tahun 1994, bahwa pendidikan  Agama Hindu adalah usaha sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan anak dalam memahami, menyakini, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Hindu sebagai wujud pengamalan pancasila melalui bimbingan pengajaran  dan latihan dengan memperhatikan tuntunan saling hormat menghormati antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat, untuk mewujudkan persatuan nasional. Adapun dimaksud bertanggung jawab dalam pengertian  ini adalah orang tua. Sedangkan para guru atau pendidik lainnya adalah merupakan perpanjangantangan para orang tua. Secara rasional dapat digambarkan bahwa kehidupan manusia dewasa ini mengalami perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam merespon fenomena yang terjadi, pendidikan agama hindu sangat erat kaitannya dengan psikologi Agama dalam menangani berbagai kasus dalam bentuk krisis moral. Dengan demikian kedua ilmu ini akan memberikan kontribusi dalam menanamkan konsep nilai dan norma, serta nilai mental spiritual. Apabila dikaji tentang makna pendidikan mengandung pengertian mengantarkan anak ke tinkat dewasa atau kedewasaan baik jasmani maupun rohani. Dengan demikian orang dikatakan dewasa dalam hal ini  dapat dilihat dari perkembangan jasmani dan perkembangan rohani serta dapat mengambil kesimpulan tehadap masalanya sendiri dan dapat bertanggung jawab terhadap beban hidup yang dihadapi sebagai makluk social dalam masyarakat. Demikian pula dalam agama hindu, masalah pendidikan mendapat perhatian yang khusus, karena melalui pendidikan agama nantinya akan dapat membentuk pribadi manusia yang berbudi pekerti yang luhu, dapat mengendalikan diri di tegah-tengah arus modernisasi dewasa, serta ilmu yang diperolehnya dapat dimanfaatkan dapat dimanfaatkan sesuai dengan ajaranagama yang dipahami. Akhirnya ilmu pengetahuan yang diperoleh lewat pendidikan tersebut bermanfaat untuk dirinya sendiri dan dapat disumbangkan untuk kemajuan bangsa dan Negara. Pedekatan psikologi dalam pendidikan agama hindu telah ada sejak dulu dan mempunyai sejarah yang cukup tua. Hal ini dapat dibuktikan dari naskah-naskah Hindu kuno seperti kitab suci weda, Upanisad, Ramayana, dan Maha Bratha. Selain itu dalam perkembangan hindu di Indonesia masih segar dalam ingatan kita adanya perguruan tinggi agaa Budha di Sriwijaya dimana perguruan ini berdasarkan pada “socio moral” dan “socio religious”. Dalam siste pendidikan ini disusun secara sederhana untuk handala kekeluargaan, dmana siswa belajar dan menuntut ilmu secara tulus ikhlas kepada gurunya. Demikian pula guunya , tidak menganggap muridnya sebagai orang lin, dia sebagai penuntun dan pembimbing anak-anak untuk mengenal tuhan. Kemudian upaya membimbing pengenalan erhadap tuhan da agama dilakukan dengan penuh kasih saying. Dalam agama Hindu manusia sejak dilahirkan telah membawa potensi keberagaman dan potensi ini baru dalam bentuk sederhana yaitu berupa kecenderungan untuk tunduk dan mengabdi kepada sesuatu. Dan didalam Agana Hindu pendidikan dilakukan pada saat  sebelum bayi dilahirkan dan sesudah lahir. Pendidikan sebelum lahir yang memegang peranan penting atau utama adalah seorang ibu yang sedang dalam keadaan  hamil. Pada saat bayi dalam kandungan segala getaran jiwa dan perasaan ibu memberkan rangsangan pada dasar-dasar perwatakan terhadap anak yang akan lahir.

Disini saya mencoba mengkaitkan antara psikologi agama dengan salah satu pembagian daripada Panca Srada yaitu percaya dengan adanya Moksa. Umat Hindu percaya dengan adanya Moksa yaitu kebebasan dengan ikatan keduniawian, dari belenggu Karmapala dan dari Samsara.’’Moksatham jagaditha ya ca iti dharmah  artinya tujuan melaksanakan dharma adalah untuk mencapai kesejahtraan  umat manusia dan pada akhirnya dikemudian hari untuk mencapai moksah atau mukti yang yang manunggal dengan tuhan di shatya loka menikmati kebahagiaan abadi jagaditha disebut “mukti’’jadi agama hindu menuntun kita agar mencapai ‘’bukthi’’ dan ‘’mukti’’ atau jagaditha dan moksa itulah makanya setiap kita memuja Dewa Surya maka mantranya menggandung permohonan “…bhukti mukti warpradam…”. Kata moksa berasal dari kata moha dan kyasa moha artinya kebingungan kita sudah berakhir kapan kebingungan kita sudah berakhir pada saat itu kita memulai perjalanan rohani menuju moksa. Orang yang masih moha/kebingungan tentu tidak bisa mencapai tujuan. Umpama ditengah perjalanan kita kebingungan tidak tahu lagi arah mata angin dalam keadaan seperti itu perjalanan kita akan mondar-mandir kesana kemari dan tidak bisa menemukan tempat yang dicari. Kebanyakan dari kita masih kebingungan bingung terhadap diri sendiri Kebanyakan dari kita beranggapan bahwa tubuh inilah diri kita yang sejati yaitu Atma karena tubuh ini dianggap diri menyebabkan prilaku kita mengutamakan kepentingan tubuh dan amat terkait dengan duniawi lalu mengabaikan kepentingan atma. Padahal dunia ini sebenarnya adalah penjara besar yang penuh dengan penderitaan, karena dunia ini di penuhi dengan berbagai kenikmatan untuk memenuhi nafsu badan, itulah makanya kita terbuai dan terbius menjadi Moha/kebingingan. Orang yang mencari hiburan di tempat-tempat mabuk, di perjudian, komplek wts, pesta sabu-sabu adalah orang yang Moha. Dunia ini diumpamakan sebagai mangkuk, yang penuh berisi madu dan manusia diumpamakan sebagai lebah. Lebah yang serakah dan bodoh akan berenang ditengah manguk minum madu sehingga terperangkap dan akhirnya mati tenggelam di lem oleh madu yang lengket. Tetapi lebah yang lebih cerdik minum madu di pinggir mangkuk setelah kenyang dia bisa terbang bebas kembali ke sarangnya. Artinya kita bisa menikmati isi dunia tetapi seperlunya saja dan hindarilah tepat –tempat yang dilarang oleh agama. Agama mengajarkan kita agar meniru lebah yang cerdik, jangan rakus , ambil seperlunya saja dan berhati-hati. Dunia ini adalah ladang karma untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin agar hutang piutang karma kita yang dulu bisa lunas.

Sifat dari pikiran kita cenderung ingin bersenang-senang di dunia dan dan cepat bosan sehingga dia amat lincah loncat sana loncat sini seperti kera gila. Dia selalu memburu yang dianggapnya lebih baik. Hal ini terus terjadi sampai ia merasa puas. Banyak orang yang tidak menyadari sifat pikiran ini sehingga banyak orang diombang-ambing oleh pikirannya sendiri. Tuhan telah meyediakan jalan kepada semua manusia untuk mencapai moksa dan jalan itu ada pada diri manusia. Tetapi pintu gerbang manusia itu masih dikunci oleh tuhan dan kuncinya di pegang oleh sat guru. Walau pintu gerbang itu ada pada diri semua manusia, akan tetapi manusia tidak dapat membukanya karena kunci dari semua itu tak mudah untuk mendapatkannya.

Jika manusia baik-baik mmpergunakan kesempatan yang ada,dengan cara taat beragama maka tuhan akan memberi yang terbaik lagi yaitu moksa atau manunggal dengan tuhan di satya lokha menikmati kebahagiaan  yang abadi, tdak ada lagi siksaan, sebaliknya jika kita menyia-nyiakan kesempatan ini, maka kelahiran berikutnya belum tentu bisa menjadi manusia.

4 Responses

  1. hmmm, ulasan yang menarik. :)

  2. ambil dikit yah buat ngerjain tugas :D

  3. Lumayan…..pasti bermanfaat.

  4. sorry ya saya copy dikit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: