Peranan Kedokteran Nuklir dalam Penegakkan Diagnosis Penyakit Paru

PENDAHULUAN
Teknik nuklir dalam bidang pulmonologi mulai diperkenalkan oleh Knipping dkk. pada pertengahan tahun 1950-an yang pertamakali menggunakan gas radioaktif untuk mengetahui distribusi gas di paru-paru, diikuti kemudian oleh Taplin dkk. pada tahun enampuluhan menggunakan partikel bertanda radioaktif untuk sidik perfusi. Sampai sekarang sidik paru ventilasi dan perfusi merupakan satu-satunya metoda diagnostik non-invasif dan dapat dipercaya untuk menilai aliran darah regional anteri pani serta hubungan antara ventilasi dan perfusi pada berbagai kelainan paru(1.2) Perkembangan berikutnya adalah penggunaan partikel radioaerosol yang ditandai dengan Tc-99m untuk sidik inhalasi
serta untuk menilai fungsi non-respiratori seperti permeabilitas alveoli dan klirens mukosilier. Ga-67 dan antibodi monoklonal bertanda, yang dikenal sebagai radionuklida untuk mendeteksi tumor dan proses inflamasi, digunakan pula dalam pengelolaan karsinoma pant dan infeksi paru. Perkembangan teknik pencitraan tomografi dengan SPECT (Single Photon Emmision Tomography) dan PET (Positron Emission Tomography) memberikan dimensi baru dalam pengelolaan penyakitparu. Pencitraan tomografi dengan SPECT akan menghasilkan Continue reading