Filosofi Pengetahuan

1.  Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan menurut Poejawijatna (1998) menyebutkan bahwa pengetahuan akan membuat seseorang mampu mengambil keputusan. Jadi pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu sehingga seseorang mampu mengambil keputusan.

2.  Tingkat Pengetahuan

Menurut Bloon dalam Notoatmodjo (2003) tingkat pengetahuan ada enam tingkat yaitu :

  1. Tahu (know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Contoh : pasien dapat menyebutkan efek dari radiasi sinar – x.
  2. Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan menginterpretasi materi tersebut secara benar. Misalnya dapat menjelaskan bahaya dari efek radiasi sinar – x.
  3. Aplikasi (Application) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
  4. Analisis (analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
  5. Sintesis (synthesis) menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
  6. Evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek.
  • Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Departemen Kesehatan RI (1997), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain :

  • Umur

Orang yang lebih muda mempunyai daya ingat yang lebih kuat dan kreativitas lebih tinggi dalam mencari dan mengenal sesuatu yang belum diketahui dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Disamping, itu kemampuan untuk menyerap pengetahuan baru lebih mudah dilakukan pada umur yang lebih muda karena otak berfungsi maksimal pada umur muda (Nursalam dan Pariani, 2001). Menurut Manuaba (1998) usia reproduksi dibagi dua reproduksi sehat umur 20-35 tahun dan reproduksi tidak sehat umur < 20 tahun dan > 35 tahun. Ibu yang mampu menerima dan mengerti informasi yang diberikan dengan baik cenderung akan memberikan persepsi dan bersikap positif sesuai dengan pemahamannya.

  • Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan membantu orang tersebut untuk lebih mudah menangkap dan memahami suatu informasi. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka tingkat pemahaman juga meningkat serta tepat dalam pengambilan sikap. Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2003) berupa UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan dibagi tiga yaitu pendidikan dasar meliputi SD/SMP, pendidikan menengah meliputi SMU/SMK, dan pendidikan tinggi meliputi Perguruan Tinggi.

Menurut Notoatmodjo (2002), pengetahuan juga dipengaruhi oleh sumber informasi. Informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber yaitu :

1)             Media Massa

Media massa merupakan salah satu perantara yang digunakan oleh sumber untuk mengirim pesan kepada penerima pesan (Anwar, 2002). Media massa berupa televise, radio, Koran, tabloid dan lain-lain.

2)             Petugas Kesehatan

Pengetahuan dapat diperoleh secara langsung dari petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

3)             Teman dan Keluarga

Pengetahuan yang dimiliki seseorang bisa juga diperoleh dari teman. Dengan merasakan manfaat dari suatu ide bagi dirinya, maka seseorang akan menyebarkan ide tersebut pada orang lain (Depkes RI, 1997).

Penilaian pengetahuan dapat dilihat dari setiap item pertanyaan yang akan diberikan peneliti kepada responden. Menurut Arikunto (2002), kategori pengetahuan dapat ditentukan dengan criteria :

1)             Baik       : jika pertanyaan dijawab dengan benar 76-100 %

2)             Cukup    : jika pertanyaan dijawab dengan benar 56-75 %

3)             Kurang  : jika pertanyaan dijawab dengan benar < 56 %

  • Paritas

Paritas merupakan jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup di luar rahim. Paritas sangat berpengaruh sekali terhadap penerimaan seseorang terhadap pengetahuan dimana semakin banyak pengalaman seorang ibu maka penerimaan akan semakin mudah. Menurut Nursalam dan Pariani (2001), pengalaman merupakan pendekatan yang penting dalam memecahkan masalah. Paritas dibedakan menjadi tiga yaitu :

  1. Primipara : wanita yang telah melahirkan anak satu kali dengan usia kehamilan > 28 minggu.
  2. Multipara : seorang wanita yang telah melahirkan lebih dari seorang anak.
  3. Grandemultipara : wanita yang telah melahirkan lima orang anak atau lebih (Pusdiknakes, 2003).

 

a.       Tahu (know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Contoh : pasien dapat menyebutkan efek dari radiasi sinar – x.

b.

 

7

Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Misalnya dapat menjelaskan bahaya dari efek radiasi sinar – x.

c. Aplikasi (Application) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).

d. Analisis (analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis (synthesis) menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

Evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek.

Advertisements

Kode Etik Radiografer

Berikut saya cuplikkan materi KODE ETIK RADIOGRAFER yang saya tempel dari konsep STANDAR PROFESI RADIOGRAFER di bab VI.
semoga bermanfaat.

A. Mukadimah
Ahli Radiografi Adalah salah satu profesi yang baik langsung maupun tidak langsung ikut berperan didalam upaya menuju kesejahteraan fisik material dan mental spiritual bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, segala sesuatu yang menyangkut profesi Ahli Radiografi selalu berorientasi kepada tuntutan masyarakat.

Ahli Radiografi adalah suatu profesi yang melakukan pelayanan kepada masyarakat, bukanlah profesi yang semat-mata pekerjaan untuk mencari nafkah, akan tetapi merupakan pekerjaan kepercayaan, dalam hal ini kepercayaan dari masyarakat yang memerlukan pelayanan profesi, percaya kepada ketulusan hati, percaya kepada kesetiaannya dan percaya kepada kemampuan profesionalnya.
Adanya limpahan dari anggota masyarakat tersebut, menuntut setiap anggota profesi agar dalam mempersembahkan pelayanan dengan cara yang terhormat, dengan disadari sepenuhnya bahwa anggota profesi selain memikul tanggung jawab kehormatan pribadi, juga memikul tanggung jawab terhadap kehormatan profesi dalam mengamalkan pelayanannya.

Dan disamping itu juga dengan penuh kesadaran bahwa pelayanannya merupakan bagian dari usaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Oleh sebab itu Anggota Profesi Ahli Radiografi memandang perlu menyusun rumusan-rumusan sebagai petunjuk dengan harapan dapat menjadi ikatan moral bagi anggota – anggotanya. Dan anggota Profesi Radiologi menyadari sepenuhnya bahwa hanya karena bimbingan Tuhan Yang Maha Esa anggota Profesi Ahli radiografi dapat melaksanakan tugas pengabdiannya demi kepentingan kemanusiaan, bangsa dan Negara dengan berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

B. Kewajiban Umum

  1. Setiap Ahli Radiografi didalam melaksanakan pekerjaan profesinya tidak dibenarkan membeda-bedakan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, jenis kelamin, agama, politik serta status sosial kliennya
  2. Setiap Ahli radiografi didalam melaksanakan pekerjaan profesinya selalu memakai standard profesi
  3. Setiap Ahli radiografi Indonesia didalam melaksanakan pekerjaan profesi, tidak dibenarkan melakukan perbuatan yang dipengaruhi pertimbangan keuntungan pribadi
  4. Setiap Ahli radiografi Indonesia didalam melaksanakan pekerjaan profesinya, selalu berpegang teguh pada sumpah jabatan dan kode etik serta standard profesi Ahli Radiografi

C. Kewajiban Terhadap Profesinya

  1. Ahli Radiografi harus menjaga dan menjunjung tinggi nama baik profesinya
  2. Ahli Radiografi hanya melakukan pekerjaan radiografi, Imejing dan radioterapi atas permintaan Dokter dengan tidak meninggalkan prosedur yang telah digariskan
  3. Ahli Radiografi tidak dibenarkan menyuruh orang lain yang bukan Ahlinya untuk melakukan pekerjaan radiografi, Imejing dan Radioterapi.
  4. Ahli Radiografi tidak dibenarkan menentukan diagnosa Radiologi dan perencanaan dosis Radioterapi

D. Kewajiban Terhadap Pasien

  1. Setiap Ahli radiografi dalam melaksanakan pekerjaan profesinya senantiasa memelihara suasana dan lingkungan dengan menghayati nilai–nilai budaya, adat istiadat, agama dari penderita, keluarga penderita dan masyarakat pada umumnya.
  2. Setiap Ahli radiografi dalam melaksanakan pekerjaan profesinya wajib dengan tulus dan ikhlas terhadap pasien dengan memberikan pelayanan terbaik terhadapnya. Apabila ia tidak mampu atau menemui kesulitan, ia wajib berkonsultasi dengan teman sejawat yang Ahli atau Ahli lainnya.
  3. Setiap Ahli radiografi wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui baik hasil pekerjaan profesinya maupun dari bidang lainnya tentang keadaan pasien, karena kepercayaan pasien yang telah bersedia dirinya untuk diperiksa
  4. Setiap Ahli Radiografi wajib melaksanakan peraturan-peraturan kebijakan yang telah digariskan oleh Pemerintah di dalam bidang kesehatan
  5. Setiap Ahli Radiografi demi kepentingan penderita setiap saat bekerja sama dengan Ahli lain yang terkait dan melaksanakan tugas secara cepat, tepat dan terhormat serta percaya diri akan kemampuan profesinya
  6. Setiap Ahli Radiografi wajib membina hubungan kerja yang baik antara profesinya dengan profesi lainnya demi kepentingan pelayanan terhadap masyarakat

E. Kewajiban Terhadap Diri Sendiri

  1. Setiap Ahli Radiografi harus menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya baik terhadap bahaya radiasi maupun terhadap penyakitnya.
  2. Setiap Ahli Radiografi senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan profesinya baik secara sendiri-sendiri maupun bersama dengan jalan mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, meningkatkan keterampilan dan pengalaman yang bermanfaat bagi pelayanan terhadap masyarakat

Kajian Psikologi Dalam Agama Hindu

Psikologi agama terdiri dari dua kata psikologi dan agama. Apabila ditinjau dari pengertiannya kedua kata tersebut memberikan pengertian yang berbeda. Psikologi berasal dari  kata “psyche” yang artinya “jiwa” dan kata “logos” yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Sehingga psikologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang kejiwaan atau ilmu jiwa. Psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaaan yang berada di belakangnya. Sekalipun jiwa itu sendiri tidak tampak, tetapi dapat dilihat dari sikap dan tingkah laku sebagai gejala-gejala kehidupan kejiwaan. Makna kata Agama menimbulkan banyak “kontroversi” yang sering lebih besar daripada arti penting permasalahannya.  Kita hanya terkait dengan cara dimana kaa tersebut digunakan, tidak ada permasalahan sama sekali mengenai fakta atau nilai yang terkait dengan agama. Dalamhal ini agama sebgai suatu kenyakinan yang sulit diukur secara tepat dsn rinci sehingga menyulitkan para ahli untuk mendefinisakan tentang agama. Ketika J.H Leuba menulis buku tentang  A Psychological Studi Of Religion yang berisi empat puluh definisa agama yang diberikan beberapa penulis. Tetapi  tidak  brarti bahwa agama itu kabur. Adanya keragaman definisi itu bersumber ketidaksamaan penulis mengenai bagaimana mereka ingin menggunakan kata tersebut dan juga ketidaksamaan pendapat mengenai  bagaimana mereka mengungkapkannya dalam uatu definisi yang bermakna. Sedangkan menurut Oka Netra, agama sebagai pengetahuan kerohanian yang menyangkut soal-soal rohani yang bersifat ghaib dan methafiska secra etimologinya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata “a” dan “gam” “A” berarti tidak dan “Gam” beratti pergi atau bergerak. Jadi kata agama berarti sesuatu yag tidak pergi atau bergerak dan besfat langgeng. Berangkay dari kenyakinan itulah, maka agama adalah merupakan kebenaran abadi yang mencakup seluruh kehidupan manusia yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Rsi dengan tujuan untuk menuntun manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup yang berupa kebahagiaan yang maha tinggi dan kesucian lahir dan bathin.

Kajian Dalam Psikologi Agama

Menurut Robert H. Thouless, psikologi agama memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiaanya terpusat pada pemahaman terhadap prilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi. Lebih lanjut, Prof.Dr.Zaiah  Darajat  menyatakan bahwa lapangan penelitian pisikologi agama mencangkup proses beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil keyakinan,Oleh karena itu lapangan kajian psikologi meliputi kajian mengenai :

  1. Mempelajari tentang berbagai macam perkembangan kejiwaan keagamaan pada setia manusia serta sikap keberagaman mereka.
  2. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap tuhannya misalnya rasa tentram dan kelegaan batin.
  3. Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati pada tiap-tiap orang ; atau dalam Agama Hindu kita kenal dengan Punarbhawa
  4. Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang tehadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut member pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan. Dengan percaya bahwa segala perbuatan yang kita lakukan (karma) maka kita akan mendapatkan  pahala dari perbuatan tersebut. Dengan demikian kajian dalam psikoogi agama  menurut Zakiah Drajat mencakup tentang kesadaran agama dan pengamalan agama. Yang dimaksud kesadaran agama adalah bagian segi agama yang hadir(terasa) dalam pikiran yang merupakan aspek mental dan aktivitas agama, sedangkan pengamalan agama adalah unsure perasaan dalam kesadaran beragama. Yaitu perasaan yang membawa kepada kenyakinan yan dihasilkan oleh tindakan.

Psikologi Dalam Pendidikan Agama Hindu.

Dalam kurikulum pendidikan Agama Hindu tahun 1994, bahwa pendidikan  Agama Hindu adalah usaha sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan anak dalam memahami, menyakini, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Hindu sebagai wujud pengamalan pancasila melalui bimbingan pengajaran  dan latihan dengan memperhatikan tuntunan saling hormat menghormati antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat, untuk mewujudkan persatuan nasional. Adapun dimaksud bertanggung jawab dalam pengertian  ini adalah orang tua. Sedangkan para guru atau pendidik lainnya adalah merupakan perpanjangantangan para orang tua. Secara rasional dapat digambarkan bahwa kehidupan manusia dewasa ini mengalami perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam merespon fenomena yang terjadi, pendidikan agama hindu sangat erat kaitannya dengan psikologi Agama dalam menangani berbagai kasus dalam bentuk krisis moral. Dengan demikian kedua ilmu ini akan memberikan kontribusi dalam menanamkan konsep nilai dan norma, serta nilai mental spiritual. Apabila dikaji tentang makna pendidikan mengandung pengertian mengantarkan anak ke tinkat dewasa atau kedewasaan baik jasmani maupun rohani. Dengan demikian orang dikatakan dewasa dalam hal ini  dapat dilihat dari perkembangan jasmani dan perkembangan rohani serta dapat mengambil kesimpulan tehadap masalanya sendiri dan dapat bertanggung jawab terhadap beban hidup yang dihadapi sebagai makluk social dalam masyarakat. Demikian pula dalam agama hindu, masalah pendidikan mendapat perhatian yang khusus, karena melalui pendidikan agama nantinya akan dapat membentuk pribadi manusia yang berbudi pekerti yang luhu, dapat mengendalikan diri di tegah-tengah arus modernisasi dewasa, serta ilmu yang diperolehnya dapat dimanfaatkan dapat dimanfaatkan sesuai dengan ajaranagama yang dipahami. Akhirnya ilmu pengetahuan yang diperoleh lewat pendidikan tersebut bermanfaat untuk dirinya sendiri dan dapat disumbangkan untuk kemajuan bangsa dan Negara. Pedekatan psikologi dalam pendidikan agama hindu telah ada sejak dulu dan mempunyai sejarah yang cukup tua. Hal ini dapat dibuktikan dari naskah-naskah Hindu kuno seperti kitab suci weda, Upanisad, Ramayana, dan Maha Bratha. Selain itu dalam perkembangan hindu di Indonesia masih segar dalam ingatan kita adanya perguruan tinggi agaa Budha di Sriwijaya dimana perguruan ini berdasarkan pada “socio moral” dan “socio religious”. Dalam siste pendidikan ini disusun secara sederhana untuk handala kekeluargaan, dmana siswa belajar dan menuntut ilmu secara tulus ikhlas kepada gurunya. Demikian pula guunya , tidak menganggap muridnya sebagai orang lin, dia sebagai penuntun dan pembimbing anak-anak untuk mengenal tuhan. Kemudian upaya membimbing pengenalan erhadap tuhan da agama dilakukan dengan penuh kasih saying. Dalam agama Hindu manusia sejak dilahirkan telah membawa potensi keberagaman dan potensi ini baru dalam bentuk sederhana yaitu berupa kecenderungan untuk tunduk dan mengabdi kepada sesuatu. Dan didalam Agana Hindu pendidikan dilakukan pada saat  sebelum bayi dilahirkan dan sesudah lahir. Pendidikan sebelum lahir yang memegang peranan penting atau utama adalah seorang ibu yang sedang dalam keadaan  hamil. Pada saat bayi dalam kandungan segala getaran jiwa dan perasaan ibu memberkan rangsangan pada dasar-dasar perwatakan terhadap anak yang akan lahir.

Disini saya mencoba mengkaitkan antara psikologi agama dengan salah satu pembagian daripada Panca Srada yaitu percaya dengan adanya Moksa. Umat Hindu percaya dengan adanya Moksa yaitu kebebasan dengan ikatan keduniawian, dari belenggu Karmapala dan dari Samsara.’’Moksatham jagaditha ya ca iti dharmah  artinya tujuan melaksanakan dharma adalah untuk mencapai kesejahtraan  umat manusia dan pada akhirnya dikemudian hari untuk mencapai moksah atau mukti yang yang manunggal dengan tuhan di shatya loka menikmati kebahagiaan abadi jagaditha disebut “mukti’’jadi agama hindu menuntun kita agar mencapai ‘’bukthi’’ dan ‘’mukti’’ atau jagaditha dan moksa itulah makanya setiap kita memuja Dewa Surya maka mantranya menggandung permohonan “…bhukti mukti warpradam…”. Kata moksa berasal dari kata moha dan kyasa moha artinya kebingungan kita sudah berakhir kapan kebingungan kita sudah berakhir pada saat itu kita memulai perjalanan rohani menuju moksa. Orang yang masih moha/kebingungan tentu tidak bisa mencapai tujuan. Umpama ditengah perjalanan kita kebingungan tidak tahu lagi arah mata angin dalam keadaan seperti itu perjalanan kita akan mondar-mandir kesana kemari dan tidak bisa menemukan tempat yang dicari. Kebanyakan dari kita masih kebingungan bingung terhadap diri sendiri Kebanyakan dari kita beranggapan bahwa tubuh inilah diri kita yang sejati yaitu Atma karena tubuh ini dianggap diri menyebabkan prilaku kita mengutamakan kepentingan tubuh dan amat terkait dengan duniawi lalu mengabaikan kepentingan atma. Padahal dunia ini sebenarnya adalah penjara besar yang penuh dengan penderitaan, karena dunia ini di penuhi dengan berbagai kenikmatan untuk memenuhi nafsu badan, itulah makanya kita terbuai dan terbius menjadi Moha/kebingingan. Orang yang mencari hiburan di tempat-tempat mabuk, di perjudian, komplek wts, pesta sabu-sabu adalah orang yang Moha. Dunia ini diumpamakan sebagai mangkuk, yang penuh berisi madu dan manusia diumpamakan sebagai lebah. Lebah yang serakah dan bodoh akan berenang ditengah manguk minum madu sehingga terperangkap dan akhirnya mati tenggelam di lem oleh madu yang lengket. Tetapi lebah yang lebih cerdik minum madu di pinggir mangkuk setelah kenyang dia bisa terbang bebas kembali ke sarangnya. Artinya kita bisa menikmati isi dunia tetapi seperlunya saja dan hindarilah tepat –tempat yang dilarang oleh agama. Agama mengajarkan kita agar meniru lebah yang cerdik, jangan rakus , ambil seperlunya saja dan berhati-hati. Dunia ini adalah ladang karma untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin agar hutang piutang karma kita yang dulu bisa lunas.

Sifat dari pikiran kita cenderung ingin bersenang-senang di dunia dan dan cepat bosan sehingga dia amat lincah loncat sana loncat sini seperti kera gila. Dia selalu memburu yang dianggapnya lebih baik. Hal ini terus terjadi sampai ia merasa puas. Banyak orang yang tidak menyadari sifat pikiran ini sehingga banyak orang diombang-ambing oleh pikirannya sendiri. Tuhan telah meyediakan jalan kepada semua manusia untuk mencapai moksa dan jalan itu ada pada diri manusia. Tetapi pintu gerbang manusia itu masih dikunci oleh tuhan dan kuncinya di pegang oleh sat guru. Walau pintu gerbang itu ada pada diri semua manusia, akan tetapi manusia tidak dapat membukanya karena kunci dari semua itu tak mudah untuk mendapatkannya.

Jika manusia baik-baik mmpergunakan kesempatan yang ada,dengan cara taat beragama maka tuhan akan memberi yang terbaik lagi yaitu moksa atau manunggal dengan tuhan di satya lokha menikmati kebahagiaan  yang abadi, tdak ada lagi siksaan, sebaliknya jika kita menyia-nyiakan kesempatan ini, maka kelahiran berikutnya belum tentu bisa menjadi manusia.