ALERGI dan PENANGANANNYA

Alergi

Alergi adalah reaksi tubuh yang berlebihan terhadap benda asing tertentu atau yang disebut alergen.
Apabila alergen masuk ke dalam tubuh seseorang, melalui berbagai cara, baik terhisap, tertelan, ataupun kontak dengan kulit, maka  sistem kekebalan tubuh seseorang yang memiliki alergi akan aktif dan menimbulkan reaksi yang berlebihan. Tidak demikian halnya dengan orang yang tidak memiliki alergi, alergen tersebut tidak memiliki pengaruh yang bermakna.

Pencegahan

  1. Hindari pemicu seperti makanan atau obat-obatan yang dapat menimbulkan reaksi alergi walaupun obat atau makanan tersebut hanya menyebabkan reaksi ringan
  2. Bila anda memiliki anak dengan alergi terhadap makanan tertentu, perkenalkan makanan yang baru satu persatu agar bisa diketahui mana yang menyebabkan alergi
  3. Bila anda pernah memiliki riwayat reaksi alergi yang serius, bawa obat-obatan darurat (seperti difenhidramin<antialergi> dan suntikan epinefrin atau obat sengatan lebah) sesuai dengan anjuran dari dokter

Pengobatan

Pengobatan alergi pada dasarnya adalah simtomatik atau sesuai dengan gejala. Prinsip yang paling utama adalah proses penghindaran benda-benda yang diperkirakan merupakan suatu alergen dengan tujuan agar pasien tidak berkontak dengannya. Apabila reaksi alergi yang terjadi mengancam nyawa pasien, seperti terjadi pembengkakan di saluran nafas, maka pasien harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penatalaksanaan yang lebih baik.

Penanganan

Untuk reaksi alergi ringan-sedang: (penyakitnya apa saja?)
  1. Tenangkan dan yakinkan pasien bahwa ia akan baik-baik saja karena kecemasan dapat memperparah keadaan
  2. Kenali dan identifikasi penyebab alergi. Bila telah diketahui maka segera hindari penderita dari penyebab. Penyebab alergi seperti sengatan lebah ditangani dengan cara mengeluarkan sengat menggunakan pencungkil baik  kuku ataupun kartu kredit. Jangan menggunakan pinset atau penjepit lainnya karena dapat menghancurkan sengat dan menyebarkan racun lebih banyak
  3. Bila penderita mengalami gatal-gatal segera berikan losio kalamin (pelembab yang mengandung kalamin) atau sesuatu yang dingin, hindari memberikan obat-obatan?maksudnya obat2an apa ya?
  4. Awasi penderita untuk gejala-gejala peningkatan distres
  5. Panggil bantuan medis. Untuk gejala ringan mungkin hanya membutuhkan pengobatan dokter yang ringan seperti antialergi

Untuk reaksi parah:

  1. Periksa ABC. Tanda-tanda bahaya untuk pembengkakan jalan nafas adalah suara serak dan berbunyi saat penderita mengambil nafas. Bila penderita mengalami kesulitan bernafas dan sangat lemah atau mengalami penurunan kesadaran, segera panggil bantuan. Bila perlu berikan bantuan nafas
  2. Tenangkan penderita
  3. Bila reaksi alergi adalah akibat sengatan lebah, hilangkan sengat dengan mencungkil. Jangan menggunakan penjepit
  4. Bila penderita memiliki obat alergi segera berikan. Hindari pemberian melalui oral bila penderita mengalami kesulitan bernafas
  5. Ambil tindakan untuk menghindari terjadinya syok. Baringkan penderita di tempat yang datar, tinggikan kaki penderita sekitar 12 inchi dan selimuti penderita dengan jaket atau kain. Jangan tempatkan penderita dengan posisi seperti ini bila penderita mengalami cedera di bagian kepala, leher, punggung, atau kaki
  6. Bila penderita mengalami penurunan kesadaran, segera lakukan tindakan penanganan penurunan kesadaran dan hubungi 118

Penyebab alergi

Pada dasarnya sistem kekebalan tubuh merupakan benteng pertahanan terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit. Bila ada benda yang membahayakan atau yang disebut ‘antigen’ masuk, maka sistem kekebalan tubuh akan bereaksi dengan cara mendatangi antigen tersebut dan menghasilkan antibodi yang terdiri dari imunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD, IgE). Antibodi ini akan datang ke tempat masuk antigen dan menghancurkannya. Antibodi ini bersifat protektif dan membantu menghancurkan antigen dengan menempel di permukaannya sehingga lebih mudah untuk dihancurkan. Imunoglobulin terdiri dari 5 tipe IgG, IgA, IgM, IgD dan IgE. Imunoglobulin yang dapat menimbulkan reaksi alergi adalah IgE. Pada orang alergi produksi IgE dapat sangat berlebihan.

Gambar : Sel Mas

Mekanisme

Bila tubuh terpapar oleh antigen atau alergen, maka reaksi kekebalan tubuh akan segera terbentuk. IgE yang terbentuk akan mendekati antigen dan menempel di permukaannya. Selanjutnya IgE akan mengaktivasi sel yang disebut sel mast. Sel mast ini mengandung zat-zat aktif yang dapat mengiritasi jaringan seperti misalnya histamin. Tubuh akan mengalami reaksi seperti gatal, mata berair, dan bersin – bersin.

Reaksi berbahaya yang dapat disebabkan oleh alergen atau antigen ini adalah pembengkakan jalan napas yang dapat menimbulkan sumbatan jalan nafas.

Mereka yang berisiko

Alergi dapat terjadi baik sejak janin masih berada di dalam kandungan maupun di berbagai macam rentang usia. Pada umumnya alergi timbul di usia kanak-kanak, namun kejadian paling sering  terjadi di usia dewasa. (gue ga ngerti maksudnya). Penyebab sensitifnya seseorang terhadap alergen tertentu dan berlebihannya produksi IgE akibat terkena alergen masih belum diketahui penyebabnya. Diperkirakan hubungan yang paling sering adalah faktor keturunan. Alergi dapat diturunkan dari orang tua ke anak. Apabila kedua orang tua tidak memiliki riwayat alergi, maka risiko anak memiliki alergi sebesar 15%. Apabila salah satu dari kedua orang tua anak memiliki alergi, maka risiko meningkat menjadi 30% dan 60% bila alergi dimiliki oleh kedua orang tua.

dikutip dari : klikdokter.com
Advertisements

GONORE

DEFINISI

klinis-go
Gonore merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang pada umumnya ditularkan melalui hubungan kelamin, tetapi juga kontak secara langsung dengan eksudat yang infektif. Penyakit ini mempunyai insidens yang tinggi dibanding penyakit menular seksual lainnya. Walaupun angka kejadian penyakit ini sudah menurun sejak tahun 1970an, namun hampir 800.000 kasus baru ditemukan tiap tahun di AS. Di dunia diperkirakan terdapat 200 juta kasus baru setiap tahunnya. Penyakit ini lebih sering menyerah remaja dan dewasa muda, serta lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita.

PENYEBAB
Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Bakteri ini dapat menular ke orang lain melalui hubungan seksual dengan penderita. Penyakit ini juga dapat menular dari ibu ke bayinya saat melahirkan. Kita tidak akan terinfeksi gonore dari pemakaian handuk bersama maupun pemakaian toilet umum.

GEJALA
Masa inkubasi gonorrhea sangat singkat, pada pria umumnya berkisar antara 2-5 hari, kadang-kadang lebih lama. Pada wanita masa inkubasi sulit untuk ditentukan karena pada umumnya tidak menimbulkan gejala.
Pada pria, awalnya terdapat rasa gatal dan panas di sekitar uretra, saluran yang menghantarkan urin dari kandung kemih ke luar tubuh. Selanjutnya, terdapat rasa nyeri saat buang air kecil dan keluar sekret kental berwarna keruh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah. Bila infeksi sudah semakin lanjut, nyeri akan semakin bertambah dan sekret semakin kental dan keruh. Selain itu terdapat nyeri pada waktu ereksi dan terkadang terdapat pembesaran kelenjar getah bening di selangkangan.
Pada wanita, gejala, kalaupun ada, dapat sangat ringan sehingga penderita tidak menyadarinya. Sebanyak 30%-60% wanita penderita gonore tidak memberikan gejala. Gejala yang timbul dapat berupa nyeri saat buang air kecil, buang air kecil menjadi lebih sering, dan kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada panggul bawah. Selain itu, terdapat sekret kental dan keruh yang keluar dari vagina.

PENGOBATAN
Bila menyadari mempunyai gejala-gejala seperti di atas, atau mempunyai pasangan seksual dengan gejala di atas, perlu memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan, seperti mengambil sekret dari vagina ataupun penis untuk dianalisa. Antibiotik adalah pengobatan untuk gonore. Pasangan seksual juga harus diperiksa dan diobati sesegera mungkin bila terdiagnosis gonore. Hal ini berlaku untuk pasangan seksual dalam 2 bulan terakhir, atau pasangan seksual terakhir bila selama 2 bulan ini tidak ada aktivitas seksual. Banyak antibiotika yang aman dan efektif untuk mengobati gonorrhea, membasmi N.gonorrhoeae, menghentikan rantai penularan, mengurangi gejala, dan mengurangi kemungkinan terjadinya gejala sisa. Pilihan utama adalah penisilin + probenesid. Antibiotik yang dapat digunakan untuk pengobatan gonore, antara lain:

1. Amoksisilin 2 gram + probenesid 1 gram, peroral
2. Ampisilin 2-3 gram + probenesid 1 gram. Peroral
3. Azitromisin 2 gram, peroral
4. Cefotaxim 500 mg, suntikan Intra Muskular
5. Ciprofloxacin 500 mg, peroral
6. Ofloxacin 400 mg, peroral
7. Spectinomisin 2 gram, suntikan Intra Muskular

Obat-obat tersebut diberikan dengan dosis tunggal.

PENCEGAHAN
Untuk mencegah penularan gonore, gunakan kondom dalam melakukan hubungan seksual. Jika menderita gonore, hindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai. Walaupun sudah pernah terkena gonore, seseorang dapat terkena kembali, karena tidak akan terbentuk imunitas untuk gonore. Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa untuk mencegah infeksi lebih jauh dan mencegah penularan. Selain itu, juga menyarankan para wanita tuna susila agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika terkena infeksi dapat segera diobati dengan benar.

Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostate Hyperplasia / BPH)

Pembesaran Prostat Jinak

 

(Benign Prostate Hyperplasia / BPH)

Defenisi

BPH merupakan pembesaran kelenjar prostat yang bersifat jinak  yang hanya timbul pada laki-laki yang biasanya pada usia pertengahan atau lanjut. Pada usia 40an, seorang pria mempunyai kemungkinan terkena BPH sebesar 25%. Menginjak usia 60-70 tahun, kemungkinannya menjadi 50%. Dan pada usia diatas 70 tahun, akan menjadi 90%.

Penyebab
Dipercaya bahwa BPH timbul karena pengaruh keseimbangan hormonal, yaitu hormon androgen dan estrogen.

Gejala

Letak kelenjar prostat adalah dibelakang saluran kemih (kencing). Jadi pembesaran kelenjar ini dapat menimbulkan gejala-gejala sumbatan dan iritasi saluran kemih yang dikenal sebagai lower urinary tract syndrome (LUTS). Gejala sumbatan dapat berupa buang air kecil yang tersendat-sendat, tidak lampias setelah buang air kecil, pancaran kencing yang lemah, dan mesti mengedan sebelum berhasil buang air kecil. Gejala iritasi dapat berupa sering buang air kecil dan keinginan untuk buang air kecil yang tidak tertahankan.

Jika tidak diobati, BPH dapat menjadi progresif (lebih parah). Karena adanya air kencing yang masih tersisa didalam kandung kemih, maka dapat menimbulkan tertahannya bakteri  yang pada akhirnya dapat menimbulkan infeksi saluran kemih. Jika keadaan ini berlangsung lama, maka dapat menimbulkan gagal ginjal.

Pemeriksaan Tambahan
Ada beberapa pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis BPH. Dokter dapat melakukan pemeriksaan colok dubur untuk meraba apakah prostat kita membesar atau tidak. Pemeriksaan laboratorium darah dan air seni dapat dilakukan untuk melihat apakah ada infeksi. Untuk melihat fungsi ginjal, dapat diperiksa kadar ureum, kreatinin, dan elektrolit darah.

Pemeriksaan prostate specific antigen (PSA) bersifat pilihan, akan tetapi banyak dokter melakukannya sebagai salah satu pemeriksaan awal. Walau BPH tidak menyebabkan kanker prostat tetapi pria pada kisaran usia tersebut mempunyai risiko tinggi untuk menderita kanker sehingga diperlukan skrining. Pria dengan pembesaran prostat mungkin mengalami peningkatan kadar PSA.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) baik melalui perut atau anus (yang dikenal dengan transrectal ultrasonography/TRUS) berguna untuk membantu menentukan ukuran prostat. Pemeriksaan roentgen dengan intravenous pielography/IVP (dengan menggunakan zat kontras radioaktif) juga dapat dilakukan untuk melihat seberapa besar sumbatan yang terjadi. Secara umum, kedua pemeriksaan tersebut tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan awal pada pasien dengan gejala LUTS tanpa komplikasi (infeksi saluran kemih, buang air kecil berdarah, batu saluran kemih, atau gagal ginjal). Pada pasien dengan peningkatan kadar PSA, sebaiknya dilakukan biopsi (pengambilan sampel jaringan) kelenjar prostat.

Penatalaksanaan

Jika gejala masih ringan, sebaiknya dilakukan pengamatan lebih lanjut. Pada keadaan tidak dapat buang air kecil (berarti sumbatan sudah total), maka pertolongan pertama yang dilakukan adalah pemasangan kateter. Jika upaya pemasangan kateter ini gagal, maka dapat dilakukan tindakan operasi. Selain itu, tindakan operasi dapat dilakukan jika : terjadi infeksi saluran kemih yang berulang, buang air kecil yang berdarah, ada batu saluran kemih, divertikulum kandung kemih, atau gagal ginjal.

Pengobatan oral

1. α blockers

Kelenjar prostat memiliki suatu reseptor yang dinamakan α 1 adrenoreseptor, dengan menghambat reseptor ini, maka kontraksi kelenjar prostat dapat dikurangi sehingga dapat mengurangi gejala pada pasien BPH. Contoh obatnya adalah fenoxibenzamin dan prazosin. Keduanya memiliki efektivitas dan hasil nyata yang berkaitan dengan perbaikan gejala. Namun banyak memiliki efek samping seperti hipotensi yang dipengaruhi posisi (ortostatik), pusing, rasa lelah, dan sakit kepala.

2. 5 α reduktase inhibitor

5 α reduktase inhibitor adalah obat yang mencegah pengubahan testoteron menjadi dihidrotestoteron. Contoh obat ini adalah finasteride. Obat ini dapat mengurangi ukuran kelenjar prostat. Dibutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk melihat efek maksimum pengobatan pada ukuran prostat maupun pada gejala penyakit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa 5 α reduktase inhibitor merupakan obat yang efektif dan aman untuk digunakan namun perbaikan gejala penyakit hanya dijumpai pada pasien dengan pembesaran prostat yang lebih dari 40 cm3. Efek samping yang ditimbulkan antara lain turunnya libido, berkurangnya volume ejakulasi, dan impotensi. Penurunan PSA dijumpai pada sekitar 50% pasien yang dirawat dengan menggunakan 5 α reduktase inhibitor sehingga mungkin saja hal ini dapat mengganggu deteksi kanker. Laporan terakhir menyatakan bahwa penggunaan finasteride dapat mengurangi kejadian tidak dapat berkemih (retensi urin) dan kebutuhan tindakan bedah pada pria dengan pembesaran prostat dengan gejala sedang sampai berat.

3. Fitoterapi

Penggunaan ekstrak tumbuh-tumbuhan untuk terapi BPH akhir-akhir ini menjadi populer. Beberapa tumbuhan yang digunakan antara lain saw palmetto berry, kulit kayu tumbuhan Pygeum africanuum, akar Echinacea purpurea dan Hypoxis rooperi, serta ekstrak serbuk sari. Mekanisme dari fitoterapi ini sebagian besar tidak diketahui dan belum dilakukan uji coba mengenai efektivitas dan keamanan dari penggunaan obat-obatan ini.
Bedah Konvensional

1. Pembedahan terbuka

Indikasi absolut yang memerlukan pembedahan terbuka dibanding pilihan bedah lainnya adalah terdapatnya keterlibatan kandung kemih yang perlu diperbaiki seperti adanya divertikel atau batu kandung kemih yang besar. Prostat yang melebihi 80-100 cm3 biasanya dipertimbangkan untuk dilakukan pengangkatan prostat secara terbuka. Pembedahan terbuka mempunyai nilai komplikasi setelah operasi seperti tidak dapat menahan buang air kecil dan impotensi. Perbaikan klinis yang terjadi sebesar 85-100%.

2. Transurethral resection of the prostate (TURP)

TURP merupakan metode paling sering digunakan dimana jaringan prostat yang menyumbat dibuang melalui sebuah alat yang dimasukkan melalui uretra (saluran kencing). Secara umum indikasi untuk metode TURP adalah pasien dengan gejala sumbatan yang menetap, progresif akibat pembesaran prostat, atau tidak dapat diobati dengan terapi obat lagi. Prosedur ini dilakukan dengan anestesi regional atau umum dan membutuhkan perawatan inap selama 1-2 hari.

3. Transurethral incision of the prostate (TUIP)

Metode ini digunakan pada pasien dengan pembesaran prostat yang tidak terlalu besar dan umur relatif muda.

4. Laser prostatekomi

Dengan teknik laser ini komplikasi yang ditimbulkan dapat lebih sedikit, waktu penyembuhan lebih cepat, dan dengan hasil yang kurang lebih sama. Sayangnya terapi ini membutuhkan terapi ulang setiap tahunnya. Penggunaaan laser ini telah berkembang pesat tetapi efek lebih lanjut dari pemakaian laser belum diketahui secara pasti.

Terapi Invasi Minimal

1. Transurethral needle ablation of the prostate (TUNA)

TUNA termasuk dalam teknik minimal invasif yang biasa digunakan pada pasien yang gagal dengan pengobatan medikamentosa, pasien yang tidak tertarik pada pengobatan medikamentosa, atau tidak bersedia untuk tindakan TURP. Teknik ini menggunakan kateter uretra yang didesain khusus dengan jarum yang menghantarkan gelombang radio yang panas sampai mencapai 100oC di ujungnya sehingga dapat menyebabkan kematian jaringan prostat. Pasien dengan gejala sumbatan dan pembesaran prostat kurang dari 60 gram adalah pasien yang ideal untuk tindakan TUNA ini.

Kelebihan teknik TUNA dibanding dengan TURP antara lain pasien hanya perlu diberi anestesi lokal. Selain itu angka kekambuhan dan kematian TUNA lebih rendah dari TURP.

2. Transurethral electrovaporization of the prostate
Teknik ini menggunakan rectoskop (seperti teropong yang dimasukkan melalui anus) standar dan loop konvensional. Arus listrik yang dihantarkan menimbulkan panas yang dapat menguapkan jaringan sehingga menghasilkan timbulnya rongga di dalam uretra.

3. Termoterapi

Metode ini menggunakan gelombang mikro yang dipancarkan melalui kateter transuretral (melalui saluran kemih bagian bawah). Namun terapi ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keefektivitasannya.

4. Intraurethral stents

Alat ini dapat bertujuan untuk membuat saluran kemih tetap terbuka. Setelah 4-6 bulan alat ini biasanya akan tertutup sel epitel. Biasanya digunakan pada pasien dengan usia harapan hidup yang minimum dan pasien yang tidak cocok untuk menjalani operasi pembedahan maupun anestesi. Saat ini metode ini sudah jarang dipakai.

5. Transurethral balloon dilation of the prostate

Pada tehnik ini, dilakukan dilatasi (pelebaran) saluran kemih yang berada di prostat dengan menggunakan balon yang dimasukkan melalui kateter. Teknik ini efektif pada pasien dengan prostat kecil, kurang dari 40 cm3. Meskipun dapat menghasilkan perbaikan gejala sumbatan, namun efek ini hanya sementara sehingga cara ini sekarang jarang digunakan.

Sinusitis

Sinusitis

SinusitisDEFINISI
Sinusitis adalah radang selaput permukaan sinus paranasal, sesuai dengan rongga yang terkena sinusitis dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis etmoid, sinusistis frontal dan sinusitis sphenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut sebagai multisinusitis sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering ditemukan adalah sinusitis maksila dan sinusitis etmoid,

EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, terdapat sekitar 0.4% dari pasien yang datang ke rumah sakit terdiagnosis dengan sinusitis.

PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI
Timbulnya Pembengkakan di kompleks osteomeatal, selaput permukaan yang berhadapan akan segera menyempit hingga bertemu, sehingga silia tidak dapat bergerak untuk mengeluarkan sekret. Gangguan penyerapan dan aliran udaradi dalam sinus, menyebabkan juga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi oleh selaput permukaansinus akan menjadi lebih kental dan menjadi mudah untuk bakteri timbul dan berkembang biak. Bila sumbatan terus-menerus berlangsung akan terjadi kurangnya oksigen dan hambatan lendir, hal ini menyebabkan tumbuhnya  bakteri anaerob, selanjutnya terjadi perubahan jaringan Pembengkakan menjadi lebih hipertrofi hingga pembentukan polip atau kista
Beberapa Faktor predisposisi atau faktor yang memperberat :

  • Obstruksi mekanik, seperti deviasi septum, pembesaran  konka, benda asing di hidugn, polip hingga tumor di hidung
  • Rhinitis alergika
  • Lingkungan : polusi, udara dingin dan kering

GEJALA KLINIS
sinusitis diklasifikasikan menjadi Tiga, yakni

  • Sinusitis akut

Bila gejala berlangsung selama beberapa hari hingga 4 minggu.

  • Sinusitis subakut

Bila gejala berlangsung selama 4 minggu hingga 3 bulan

  • Sinusitis Kronis

Bila gejala berlangsung lebih dari 3 bulan

Beberapa gejala subjektif dibagi menjadi gejala sistemik dan gejala lokal, gejala sistemik yang dimaksud adalah demam dan lesu Gejala lokal yang muncul adalah ingus kental dan berbau, nyeri di sinus, reffered pain (nyeri yang berasal dari tempat yang lain­), yang bervariasi pada tiap sinus, seperti sinusitis maksila terdapat nyeri pada kelopak mata dan kadang-kadang menyebar ke alveolus, sinusitis etmoid, rasa nyeri dirasakaan di pangkal hidung dan kantus medius, sinusitis frontal, rasa nyeri dirasakan di seluruh kepala, sedangkan sinusitis sphenoid, nyeri dirasakan di belakang bola mata dan mastoid.

Pada pemeriksaan beberapa gejala obyektif bisa didapatkan:

  • Pembengkakan di daerah muka
  • Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior , selaput permukaan konka merah  dan Bengkak
  • Pada rhinoskopi posterior terdapat lendir  di nasofaring dan post nasal drip.

Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan adalah pemeriksaan TRANSLUMINASI, sinus yang terinfeksi akan terlihat lebih suram dan gelap pada pencahayaan tekhnik khusus. Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan radiologic WATERS PA DAN LATERAL, akan tampak perselubungan atau penebalan selaput permukaan dengan batas garis khayalan yang terbentuk karena beda zat cair dan udara pada sinus yang sakit.  Dapat juga dilakukan pemeriksaan mikrobiologik pada sekret yang diambil, tetapi hinggak kini jarang digunakan.

TATALAKSANA
Dapat diberikan terapi pengobatan Antibiotik selama 10-14 hari meskipun gejala klinis telah hilang, Antibiotika yang diberikan dapat golongan Penisilin, tetapi untuk lini kedua dapat digunakan Amoksisilin Klavulanat dan ditambah dengan dekongestan oral.
Terapi pembedahan jarang diperlukan kecuali telah terjadi komplikasi ke organ sekitar sinus.

Formula Laju Filtrasi Glomerulus / eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate)

Perhitungan eGFR

Pada praktek klinis sehari-hari komponen ekskresi dari fungsi ginal biasanya dinilai dengan menggunakan kadar kreatinin serum. Kreatinin serum sering juga digunakan untuk menilai laju filtrasi glomerulus. Produksi kreatinin berhubungan dengan massa otot, bila massa otot berkurang maka kreatinin serum akan rendah sehingga laboratorium sering memberikan nilai normal kreatinin dalam bentuk interval dan hal ini sering memberi petunjuk yang salah untuk menilai fungsi ginjal. Kelemahan kreatinin dalam memperkirakan LFG disebabkan oleh hal-hal di bawah ini :

  1. Berhubungan dengan massa otot. Massa otot rendah maka LFG lebih tinggi dari aslinya.
  2. Korelasi negative dengan LFG, tidak sensitif pada penurunan LFG awal.
  3. Kreatinin disekresikan juga oleh tubulus. Pada nilai rendah LFG lebih tinggi dari aslinya.
  4. Ekskresi ekstrarenal. Pada nilai rendah LFG lebih tinggi dari aslinya.
  5. Konsumsi daging terutama dikukus. LFG tampak lebih rendah dari aslinya.
  6. Pengaruh chromogen saat pengukuran. LFG tampak lebih rendah dari aslinya.
  7. Kreatinin serum sering dianggap stabil . Tidak sensitif untuk perubahan yang cepat dari fungsi ginjal.
  8. Konsumsi obat seperti cimetidine dan trimetoprim menghambat sekresi kreatinin oleh tubulus. Peningkatan kreatinin serum membuat LFG tampak lebih rendah dari aslinya.

Formula MDRD untuk memperkirakan LFG

Pengukuran LFG standar memerlukan waktu yang lama dan biaya tinggi sehingga tidak praktis untuk pemeriksaan rutin. Berbagai formula untuk menilai LFG sudah divalidasi secara luas, terakhir formula dari MDRD dianggap lebih baik dari klirens kreatinin yang dihitung dari bahan urine 24 jam maupun formula dari Cockcroft-Gault (CG). Formula untuk memprediksi nilai LFG disebut sebagai eGFR (estimated GFR) untuk membedakannya dari measured GFR. Formula MDRD ini membutuhkan data umur, jenis kelamin, ras dan kadar kreatinin serum. Data-data ini biasanya diminta oleh laboratorium bila dilakukan pemeriksaan kreatinin, sehingga ini memudahkan memprediksi GFR dibandingkan CG yang membutuhkan data berat badan.
Pemeriksaan kreatinin serum biasanya dilakukan dengan metoda kolorimetrik berdasarkan reaksi Jaffe atau dengan metoda yang lebih jarang dipakai yaitu enzimatik. Metoda kolorimetrik dipengaruhi oleh kromogen lain seperti keton dan glukosa yang dapat memberikan hasil kreatinin lebih tinggi atau bilirubin yang akan memberi hasil kreatinin lebih rendah. Formula MDRD pun dapat menggunakan rumus yang melibatkan ureum dan albumin, tetapi formula ini digunakan pada pasien yang stabil sehingga untuk pasien dalam keadaan sakit hasilnya akan menyesatkan. Pada kebanyakan kondisi formula MDRD dengan 4 faktor saja lebih disukai karena sedikit saja mempengaruhi hasil perhitungan LFGnya. Pendekatan dengan metoda ini pun memerlukan biaya yang relatif ringan karena tidak perlu memeriksa albumin dan ureum.

Formula MDRD terdiri dari :

  • Formula MDRD dengan 6 variabel (original atau persamaan 7)

eGFR = 170 × SCr-0.999 × age-0.176 × SUN-0.170 × SAlb 0.318 × 0.762 (bila perempuan) × 1.180 (jika berkulit hitam)

  • Formula MDRD dengan 4 variabel ( abbreviasi atau modifikasi)

eGFR = 186.3 × SCr -1.154 × age-0.203 × 0.742 (bila perempuan) × 1.212 (jika berkulit hitam)

  • The ID-MS traceable MDRD formula

eGFR = 175 × SCr -1.154 × age-0.203 × 0.742 (bila perempuan) × 1.212 (jika berkulit hitam).

Keterangan

Formula untuk memprediksi GFR dari MDRD study. GFR dinyatakan dalam ml/min/1.73 m2 .
GFR: glomerular filtration rate
MDRD: modification of diet in renal disease;
SCr: serum creatinine in mg/dl (multiply by 88.4 to convert to mmol/l);
SUN: serum urea nitrogen in mg/dl (multiply by 0.357 to convert to mmol/l);
SAlb: serum albumin in g/dl (multiply by 10 to convert to g/l);
ID-MS: isotope dilution-mass spectrometry

dikutip dari : FK Universitas Padjadjaran-RS. Hasan Sadikin Bandung